RAFA TOUR

Rata Tour and Travel merupakan bagian dari Double A Plus yang khusus menangani perjalanan wisata dan umroh. Rafa Tour berkantor pusat di Jl Pertanian 09 Balen, Bojjonegoro, Jawa Timur, berpengalaman menangani perjalanan wisata, didukung tour guide yang berpengalaman untuk memastikan Anda menikmati perjalanan wisata.

Selasa, 18 Desember 2012

JOGJAKARTA

Jogjakarta atau lebih populer disebut Jogja adalah sebuah kota yang menawarkan beragam wisata, mulai dari wisata alam, budaya, pendidikan, keagamaan, kuliner, belanja ataupun minat khusus, semua ada di Jogja. Sikap  masyarakat Jogj yang ramah, membuat perjalanan wisata di kota ini menjadi sangat menyenangkan. Tak mengherankan bila kota ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara.

SERIBU CANDI
Obyek wisata yang sudah sangat populer di kalangan wisatawan adalah Candi Prambanan, Boko, Borobudur, Pawon, Mendut, dan Plaosan. Selain itu, sebenarnya masih begitu banyak candi-candi kecil peninggalan kerajaan ini yang belum begitu populer, peningggalan Kerajaan Mataram Klasik (Hindu-Budha) yang berjaya pada abad ke-8 dan 9 Masehi. Berikut beberapa candi-candi kecil yang seringkali luput untuk dikunjungi yang patut menjadi referensi Anda berwisata ke Jogjakarta:
Candi Sambisari
Candi Sambisari sangat  unnik,  karena terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, sehingga candi Sambisari sering disebut sebagai candi bawah tanah. Hal ini kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-XI. Candi Sambisari  merupakan candi Hindu (Siwa) yang dibangun pada abad ke-9 Masehi pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada tahun 812-838 Masehi. Terletak sekitar 12 km di sebelah timur kota Jogja atau kira-kira 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan tepatnya di desa Sambisari Kelurahan Purwomartani Kalasan Sleman. Sekitar tahun 1966, candi ini ditemukan oleh seorang petani, bernama Karyoinangun, yang sedang mencangkul ladangnya. Secara tidak sengaja cangkulnya mengenai batu-batu berukir. Bila Anda ke Jogjakarta, sanngat disayangkan kalau tidak mengunjungi Candi Sambisari yang unik berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah dan membuat candi ini tidak tampak dari kejauhan!
Candi Sari
Candi Sari adalah candi Budha yang terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Dibangun pada abad ke- 8 Masehi dan ke-9 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, sebagai bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan, sedangkan untuk asrama pendeta Buddha dibangunlah Candi Sari. Fungsinya sebagai asrama atau tempat tinggal terlihat dari bentuk keseluruhan dan bagian-bagian bangunan dan dari bagian dalamnya. Bahwa candi ini merupakan bangunan agama Buddha terlihat dari stupa yang terdapat di puncaknya. Bentuk candi ini sangat indah yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap, dengan ketinggian 17 meter, panjang 17,3 meter, dan lebar 10 meter. Di dalam ruangan candi terdapat tiga ruangan berjajar masing-masing berukuran 3,48 m x 5,80 m. Kamar tengah dan kedua kamar lainnya dihubungkan oleh pintu dan jendela. Candi merupakan tempat meditasi bagi para pendeta Buddha (bhiksu), asrama bagi pendeta menganjar para siswanya, dimana didalamnya terdapat sebuah kuil dan juga untuk menyimpan kitab-kitab agama.
Candi Kalasan
Candi Kalasan atau terkenal juga dengan Candi Kalibening merupakan peninggalan agama Budha tertua di wilayah Jogja dan Jawa Tengah, terletak di desa Kalasan di tepi jalan Raya Yogya-Solo di km 13 sedikit masuk ke dalam sekitar 50 meter. Rakai Panangkaran, mendirikan candi ini untuk pemujaan Dewi Tara. Bangunannya sangat megah serta dan memiliki ornamen indah unik. Di sekeliling candi terdapat Balekambang. Tubuh candi berhias 52 stupa, memiliki empat buah ruang. Ruang di tengah yang terbesar berisi arca Dewi Tara setinggi 3-6 meter. Bagian atas badan candi terdapat arca Dhyani-Budha di empat penjuru mata angin yaitu Aksobhya, Amogasidhi, Amitabha dan Ratnasambhawa. Lengkung Kala Makara dengan hiasan kahyangan di atasnya terpahat di atas pintu masuk dengan begitu indahnya.
Candi Ijo
Candi Ijo merupakan candi Hindu. Terletak di atas bukit bernama Gumuk Ijo (Bukit hijau) di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Candi Ijo merupakan Komplek di bangun sekitar abad ke - 9 sampai ke- 10 M. Candi Ijo merupakan candi yang paling tinggi letaknya di banding candi-candi lain yang ada di daerah Jogjakarta, Candi ini berada diketinggian sekitar 395 di atas permukaan laut, sehingga candi ini di kenal juga dengan sebutan "Candi Tertinggi di Jogjakarta". Candi Tertinggi bukan karena tingginya bangunan candi melainkan karena letaknya yang tinggi. Meskipun sampai kini belum diketahui fungsi utama dari Candi Ijo ini namun candi ini sangat menarik untuk dikunjungi karena di sana Anda akan melihat bangunan candi yang dibangun di atas bukit berpadu dengan pemandangan alam yang sangat indah di sekitarnya.
Candi Barong
Candi Barong adalah salah satu candi unik yang terdapat di wilayah selatan Candi Prambanan, tepatnya di perbukitan Batur Agung Dusun Candi Sari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Dinamakan Candi Barong oleh penduduk setempat karena adanya hiasan kala pada setiap sisi tubuh candi. Hiasan tersebut menyerupai singa/ barong. Candi ini merupakan kompleks peribadatan untuk memuja Dewa Wisnu dan istrinya, Dewi Laksmi atau yang terkenal dengan nama Dewi Sri (dewi kesuburan bagi pertanian). Halaman komplek candi ini berupa tiga buah teras yang semakin tinggi ke arah timur, yang merupakan bagian belakang. Pada teras tertinggi terdapat sebuah selasar dan dua buah candi yang tidak memiliki jendela dan pintu. Teras tertinggi ini merupakan halaman yang paling suci.
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo (adalah candi Budha yang terletak di sebelah selatan Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, sekitar 14 km timur Kota Jogja. Lokasinya terlihat menyendiri di antara kawasan pertanian dengan latar belakang bukit Gunung Kidul di arah selatan. Candi ini dinamakan banyunibo karena menurut penduduk setempat bila dilihat dari jauh bentuknya menyerupai embun yang menetes. Candi ini dibangun pada area yang cukup luas dan dikelilingi oleh bukit-bukit pada sisi utara, timur, dan selatan. Di atas perbukitan tersebut juga terletak beberapa candi lain seperti Candi Boko, Candi Dawangsari atau Candi Saragedug, Situs Gupala, dan Candi Ijo. Keadaan dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas.
Candi Kedulan
Candi Kedulan adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Sambisari, yaitu di Dusun Kedulan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Yogyakarta. Candi Kedulan menghadap ke arah timur dan seni hiasannya mendekati hiasan Candi Ijo dan Candi Barong. Pada Candi Kedulan juga terdapat pipi tangga pada candi perwara (pendampingnya). Hiasan pipi tangga berbentuk ular, di dalam mulut ular terukir sesosok burung.
Candi Gampingan
Candi Gampingan adalah candi Budha, terletak di dusun Gampingan, kelurahan Sitimulyo, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul, yaitu di sebelah selatan kota Yogyakarta. Berdasarkan pada gaya seni bangun dan seni arcanya, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke- 9 Masehi. Meski ukurannya kecil dan sudah tak utuh lagi, Candi Gampingan masih kaya akan relief yang mempesona. Pada bagian kaki dari candi Gampingan ini terdapat relief berbagai jenis hewan seperti katak, ayam jantan, dan berbagai jenis burung. Terdapat relief burung gagak yang tampak memiliki paruh besar, tubuh kokoh, sayap mengembang ke atas dan ekor berbentuk kipas. Ada pula relief burung pelatuk yang digambarkan memiliki jambul di atas kepala, paruh yang agak panjang dan runcing serta sayap yang tidak mengembang. Selain itu, ada juga ayam jantan yang memiliki dada membusung dan sayap mengembang ke bawah. Pembuatan relief burung dalam jumlah banyak di candi ini berkaitan keyakinan masyarakat saat itu bahwa burung merupakan perwujudan para dewa sekaligus pembawa pesan dari alam para dewa atau nirwana. Burung juga berkaitan dengan kebebasan absolut manusia yang dicapai setelah berhasil meninggalkan kehidupan duniawi, lambang jiwa manusia yang lepas dari raganya.
Candi Morangan
Candi Morangan adalah candi Hindu yang berada di dusun Morangan, kelurahan Sindumartani, kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta dan menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Jogjakarta. Berada sangat dekat dengan sungai Gendol (100 meter sebelah barat) dan paling utara mendekati gunung Merapi. Relief-relief menggambarkan dua laki-laki mengapit tumpukan bunga-bungaan, dua wanita mengapit kendi besar dengan membawa kendi-kendi kecil, dua wanita menunggang gajah, tiga orang resi, kepala dalam relung, dan ayam jantan disangga gana. Selain itu ada beragam burung mulai burung gereja, kakatua dan burung merak. Relief binatang lainnya adalah sapi, kijang, dan kancil. Ukiran binatang dan bunga teratai mendominasi relief dinding candi ini. Banyaknya relief binatang ini menunjukkan kedekatan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Candi Gebang
Candi Gebang terletak dusun Gebang, kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Untuk menuju ke Candi Gebang harus memasuki kawasan rumah penduduk dan jalan setapak yang cukup sunyi dari keramaian. Candi Gebang merupakan Candi Hindu. Hal ini terbukti dengan adanya puncak atap berbentuk Lingga Silinder yang ditempatkan diatas bantalan Seroja, disamping itu juga adanya arca ganesha, nandhiswara dan yoni yang masing-masing terletak di relung sebelah barat, relung sebelah timur dan di sebelah kiri pintu masuk dan bilik candi.

Selain candi, di Jogjakarta masih banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi, diantaranya:
Pasar Sore Malioboro
Pasar ini berada di kawasan Malioboro yaitu sebelah utara Benteng Vredeburg Lebih dari 20 pedagang menempati pasar sore sejak tahun 2000. Sebelumnya, para pedagang tersebut menggelar dagangan mereka di depan dan selatan Benteng Vredenburg. Kondisi jalan Malioboro dan sekitarnya yang padat ditambah dengan keberadaan para pedagang di trotoar membuat jalan semakin semrawut sehingga Pemerintah Jogjakarta akhirnya meminta mereka pindah ke lokasi parkir di sisi selatan Pasar Beringharjo itu.
Para pedagang di Pasar Sore Malioboro mulai memajang dagangan sejak pukul 17.00 WIB hingga larut malam tergantung pada keramaian pembeli. Mayoritas pedagang di Pasar Sore Malioboro berdagang berbagai macam jenis dan bentuk pakaian untuk semua umur, tas, sandal, dan sepatu. Anda juga bisa menjumpai oleh-oleh khas Jogjakarta seperti bakpia, geplak, dan sebagainya. Setelah puas mengitari Pasar Sore ini Anda bisa langsung berjalan ke arah selatan jalan Malioboro atau depan Benteng Vredeburg. Di sana bisa duduk-duduk santai menikmati malam di jantung kota Jogja sambil menikmati jajanan yang ditawarkan para pedagang dan memandang gedung-gedung tua di sekitarnya seperti Gedung Agung yang juga merupakan Istana Kepresidenan, Gedung BI dan tentu saja Benteng Vredeburg. Suara pengamen juga akan terdengar menghiasi keramaian suasanan di sana.
Lesehan Malioboro
Malioboro merupakan salah satu icon dari kota Jogja. Sebuah jalan dengan deretan toko dan para pedagang kaki lima yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Mulai dari jam 09.00 - 21.00 WIB, para wisatawan bisa memilih barang yang.hendak dibeli di sepanjang Jalan Malioboro mulai dari pakaian, makanan, cindera mata, tas, sepatu, dan sebagainya. Jika malam telah tiba Anda akan menemui tema lain di Malioboro ini. Ketika semua toko, mall, dan pedagang kaki lima tutup mulailah berganti pedagang lesehan yang menggelar dagangannya. Inilah ciri khas Jalan Malioboro pada malam hari, yaitu warung-warung lesehan yang dapat Anda temui di sepanjang Jalan Malioboro. Kebanyakan warung menggunakan alas tikar dan meja pendek. Lesehan memang artinya duduk santai di lantai. Menu dari warung-warung ini mulai dari bebek goreng, ayam goreng, ayam panggang, burung dara goreng, sate, pecel lele, seafood dan tak lupa gudeg Jogja.
Sebaiknya datangi lesehan yang memajang daftar harganya supaya Anda bisa memperkirakan uang yang akan Anda keluarkan untuk makanan tersebut. Sebab memang ada warung lesehan yang tidak memasang harga dan ketika membayar membuat pembeli terkejut karena makanan yang mahal. Sekarang hampir semua pedagang lesehan telah memasang daftar harga makanan yang mereka jual. Harga memang biasanya lebih mahal dibandingkan dengan lesehan tempat lain di Jogja. Namun di Malioboro ini selain makan malam, Anda sekaligus menikmati kawasan wisata yang memiliki daya pikat dan ciri khas-nya sendiri. Diiringi seniman-seniman jalanan Jogja, santap malam Anda akan terasa lebih indah. Ada pengamen yang hanya bermodal peralatan seadanya, ada yang tampil profesional dengan peralatan lengkap dan kadang kala lelaki tua dengan siter-nya pun mengamen di warung-warung lesehan Malioboro. Selain itu para seniman lukis wajah juga acapkali datang menawarkan jasa untuk pengunjung warung.. Hanya dalam hitungan menit, hasil lukisan karikatur sudah bisa dinikmati pemesannya.
Tugu Jogja
Tugu Yogyakarta adalah sebuah menara yang sering dipakai sebagai lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, setahun setelah didirikannya Kraton Jogja. Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Tugu ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, Kraton Jogja dan Gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.
Tugu Jogja akan sangat indah dinikmati sore hingga malam hari saat bermandikaan cahaya dari lampu sorot yang menghiasi bangunan tersebut. Lebih menyenangkan sambil menikmati makanan dan jajanan di sekitar Tugu, seperti gudeg, angkringan, pecel lele, dll. Banyak wisatawan terutama anak-anak muda berfoto untuk mengabadikan wisata mereka di Jogja. Setelah itu mereka duduk-duduk bergerombol hingga lewat dini hari di sekitarnya. Jika Anda berjalan ke selatan, di sebelah Timur jalan tersedia bangku yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai sambil memandang Tugu yang menjadi salah satu icon anak-anak muda yang suka nongkrong hingga larut malam.
Angkringan Jogja
Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional lampu senthir dengan bahan baker minyak tanah. Selain itu terangnya lampu jalan juga membuat suasana warung angkring makin terang.
Menu makanan wajib angkringan adalah nasi (sego) kucing. Disebut nasi kucing karena porsinya seperti nasi yang seperti porsi nasi dan lauk pauk yang biasa diberikan untuk kucing, yaitu tempe atau ikan teri Nasi yang dijual di angkringan ini di bungkus dengan daun pisang dengan lauk biasanya sambal tempe, teri, atau telur dadar yang dipotong kecil-kecil. Menu lain yang tersaji dalam keranjang di atas angkringan adalah sate usus, jeroan, dan telur puyuh. Selain itu ada ceker ayam, gorengan, dan bebrapa makanan ringan. Sedangkan pilihan minuman yang biasa ada di angkringan adalah wedang jahe, teh, jeruk, kopi, dan beberapa minuman praktis lainnya. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Sejarah angkringan di Jogja dimulai sekitar tahun 1950-an yang dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota Jogja. Mbah Pairo inilah pionir angkringan di Jogja. Bertempat di sekitar Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak "Hiiik…iyeek" ketika menjajakan dagangan mereka.
Bukit Bintang
Hargodumilah atau sering disebut Bukit Bintang terletak di jalan Jogja-Wonosari km 16 Pathuk Gunungkidul. Pemberian nama bukit bintang ini karena dari sini jika di malam hari memandang kota Jogja akan terlihat lampu rumah-rumah bersinar dari kejauhan seperti bintang bertaburan berpadu dengan langit malam yang memang penuh bintang. Hal itu membuat pemandangan kota Jogja tampak menyatu antara langit sampai batas cakrawala. Terlihat begitu indah!
Pada siang hari pun Anda akan melihat pemandangan yang menakjubkan yaitu Gunung Merapi,Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri tegak memamerkan keindahan di kejauhan sana. Saat mengunjungi Hargodumilah di kala senja, Anda akan menyaksikan sunset di atas kota Jogja. Keindahan akan berlanjut saat malam dengan kerlap-kerlip kota Yogyakarta yang akan Anda saksikan dari bukit ini.
Alun-Alun Selatan
Alun-alun Kidul (Selatan) atau sering disebut Alkid adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alkid sering pula disebut sebagai Pengkeran, berasal dari kata pengker (bahasa Jawa) yang berarti belakang. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga (Mangifera indica; famili Anacardiaceae), pakel (Mangifera sp; famili Anacardiaceae), dan kueni (Mangifera odoranta; famili Anacardiaceae). Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (Capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok (dari kata bewok, yang berarti jenggot). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya.
Kota Gede
Kotagede yang merupakan kota tua cikal bakal Jogjakarta dan Solo. Di Kotagede Anda dapat mengunjungi makam pendiri Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati. Makam ini dulunya merupakan bagian dari kompleks kraton. Di kompleks ini Anda masih dapat menyaksikan masjid tertua di Jogja dengan arsitektur Jawa yang elegan yang didirikan sekitar tahun 1640-an, kolam pemandian, bedug serta mimbar masjid yang merupakan hadiah dari Adipati Palembang yang juga berusia ratusan tahun. Di depan bekas kompleks kraton Mataram ini, Anda juga bisa menyaksikan pasar tua yang dibangun hampir bersamaan dengan pendirian kompleks kraton tersebut. Kota tua ini juga mempunyai banyak peninggalan bangunan berbentuk Joglo yang berusia ratusan tahun. Selain itu Anda akan melihat rumah-rumah unik dan artistik yang ratusan tahun lalu adalah milik orang-orang Kalang. Pada masa lalu orang Kalang ini mempunyai keahlian dalam pertukangan dan pekerjaan-pekerjaan kreatif sehingga sering diminta oleh Sultan untuk mengerjakan berbagai hal di dalam Keraton.
(Diolah dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar